Tampilkan postingan dengan label Tugas PKn. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas PKn. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Februari 2011

Suku Sunda - Jawa Barat

SUKU SUNDA


Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat. Suku Sunda merupakan etnis kedua terbesar di Indonesia, setelah etnis Jawa. Sekurang-kurangnya 15,41% penduduk Indonesia merupakan orang Sunda. Mayoritas orang Sunda beragama Islam. Namun dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak masyarakat yang mempercayai kekuatan-kekuatan supranatural, yang berasal dari kebudayaan animisme dan Hindu. Kepercayaan tradisional Sunda Wiwitan masih bertahan di beberapa komunitas pedesaan suku Sunda, seperti di Kuningan dan masyarakat suku Baduy di Lebak yang berkerabat dekat dan dapat dikategorikan sebagai suku Sunda.
Dalam urusan-urusan nasional, tidak banyak peran penting yang dimainkan oleh etnis Sunda. Walaupun peristiwa-peristiwa penting sering terjadi di Jawa Barat, namun sedikit sekali dari peristiwa tersebut yang diperankan oleh orang-orang Sunda. Dalam kancah kehidupan berbangsa dan bernegara, hanya sedikit orang Sunda yang menjadi pemimpin politik, sastrawan, dan pengusaha. Prestasi yang cukup membanggakan adalah banyaknya penyanyi dan artis dari etnis Sunda, yang berkiprah di tingkat nasional.[2]
Sunda berasal dari kata Su yang berarti segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan. Orang Sunda meyakini bahwa memiliki etos atau karakter Kasundaan, sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (cerdas). Karakter ini telah dijalankan oleh masyarakat yang bermukim di Jawa bagian barat sejak jaman Kerajaan Salakanagara.
Nama Sunda mulai digunakan oleh raja Purnawarman pada tahun 397 untuk menyebut ibukota Kerajaan Tarumanagara yang didirikannya. Untuk mengembalikan pamor Tarumanagara yang semakin menurun, pada tahun 670, Tarusbawa, penguasa Tarumanagara yang ke-13, mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Kemudian peristiwa ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan raja Galuh. Akhirnya kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batasnya.


Peta linguistik Jawa Barat
Dalam percakapan sehari-hari, etnis Sunda banyak menggunakan bahasa Sunda. Namun kini telah banyak masyarakat Sunda terutama yang tinggal di perkotaan tidak lagi menggunakan bahasa tersebut dalam bertutur kata.[3] Seperti yang terjadi di pusat-pusat keramaian kota Bandung dan Bogor, dimana banyak masyarakat yang tidak lagi menggunakan bahasa Sunda.
Ada beberapa dialek dalam bahasa Sunda, antara lain dialek Sunda-Banten, dialek Sunda-Bogor, dialek Sunda-Priangan, dialek Sunda-Jawa, dan beberapa dialek lainnya yang telah bercampur baur dengan bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Karena pengaruh budaya Jawa pada masa kekuasaan Kerajaan Mataram Islam, bahasa Sunda - terutama dialek Sunda Priangan - mengenal beberapa tingkatan berbahasa, mulai dari bahasa halus, bahasa loma/lancaran, hingga bahasa kasar. Namun di wilayah-wilayah pedesaan dan mayoritas daerah Banten, bahasa Sunda loma tetap dominan.

Profesi
Mayoritas masyarakat Sunda berprofesi sebagai petani, penambang pasir, dan berladang.[4] Sampai abad ke-19, banyak dari masyarakat Sunda yang berladang secara berpindah-pindah. Di wilayah perkotaan, banyak orang Sunda yang berprofesi sebagai buruh pabrik, pegawai negeri, dan pembantu rumah tangga. Profesi pedagang keliling banyak pula dilakoni oleh masyarakat Sunda, terutama asal Tasikmalaya dan Garut. Mereka banyak menjual aneka perabotan rumah tangga.

Tugas PKn       : Suku-suku yang ada di Indonesia
Nama               : M.Hilman Andhika
No. Absen        : 22
Kelas/Sekolah   : 3C SD Pembangunan Jaya

Rabu, 16 Februari 2011

Suku abui - Nusa Tenggara Timur

SUKU ABUI


Suku Abui adalah suku yang menghuni kampung tradisional Takpala di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dalam legenda dikisahkan bahwa Suku Abui adalah pendiri kerajaan tertua yang pernah ada di Alor, yaitu Kerajaan Abui yang didirikan di pedalaman Pegunungan Alor. Strata sosial dalam Suku Abui dibagi dalam tiga kelompok, yaitu Suku Kapitang atau suku perang, Suku Aweni yang terdiri dari kaum raja/bangsawan, dan Suku Marang atau suku perantara. Setiap suku memiliki kewenangan sesuai kedudukannya masing-masing. Biasanya, ketiga kelompok suku ini saling berinteraksi saat menjalankan suatu pekerjaan. Misalnya, sebagai suku raja, Suku Marang memberi perintah kepada Suku Aweni untuk disampaikan kepada Suku Kapitang agar pergi berperang.

Pakaian
Suku Abui memiliki pakaian tradisional yang terbuat dari kain sejenis songket. Pakaian pria dan wanita memiliki namanya masing-masing. Untuk pakaian wanita disebut noang sedangkan untuk pakain pria disebut keng. Cara menggunakan pakaian ini sangat mudah karena hanya dililit saja.

Makanan
Makanan pokok kesehariannya pun bukan nasi, melainkan jagung. Jagung rrebus ini biasa mereka sebut dengan fatmamal. Jagung rebus yang satu ini lain daripada yang lain karena mereka memasaknya dengan setengah matang. Semua itu dimaksudkan agar yang memakan jagung rebus lebih cepat kenyang dan dapat menahan lapar lebih lama.

Rumah Adat
Masyarakat suku Abui beristirahat dirumah peristirahatan atau tofa. Rumah ini seperti rumah panggung namun dibagian bawahnya ada tempat tambahan. Karena dirumah tersebut pria dan wanitanya tidur secara terpisah. Wanita dibagian atas dan pria dibagian bawah.

Kebiasaan
Walau hidup dengan gaya masih sangat tradisional, bukan berarti mereka tidak memiliki kegiatan setiap harinya. Untuk suku tersebut, pantang yang namanya bermalas-malasan. misalnya, keseharian para laki-laki, baik orang dewasa maupun anak kecil adalah berburu babi, membuat panah, dan membuat rokok dari tembakau yang dilinting. Untuk para wanitanya adalah berkebun, mencari sayuran, memasak dan mengambil air.

Kehidupannya memang sangat sederhana, ditambah mereka tidak merima listrik untuk kesehariannya. Mereka masih berpegang teguh bahwa alam tidak boleh ada yang mengganggu. Yang menarik dari suku ini adalah rasa kebersamaan dan nilai-nilai yang masih dijalankan dengan teguh, disaat gempuran globalisasi dan modernisasi di zaman sekarang. Rasa kebersamaan ini yang membuat Suku ini tetap hidup. Nilai-nilai yang mereka tanamkan terasa tidak ada paksaan ataupun beban, tetapi memang suatu keharusan untuk menjalani hidup apa adanya. Mereka memiliki cara tersendiri untuk menjalani hidupnya.


Tugas PKn        :  Suku-suku yang ada di Indonesia

Nama                :  M. Ilhan Ghiffary

No. Absen        :  23

Kelas/Sekolah   :  3C – SD Pembangunan Jaya

Selasa, 15 Februari 2011

Suku Banjar - Kalimantan Selatan

 

 

 

Suku Banjar (Urang Banjar)


Bahasa : Bahasa Banjar merupakan bahasa ibu Suku Banjar. Banyak kosakata-kosakata bahasa ini sangat mirip dengan Bahasa Dayak, Bahasa Melayu, maupun Bahasa Jawa. Bahasa  Indonesia
Agama : Islam
Kelompok etnis terdekat : Melayu, Kutai, Jawa, Dayak (Bukit, Bakumpai, Ngaju, Maanyan, Lawangan)

Sketsa seorang pembesar Kerajaan Banjar sekitar tahun 1850 (koleksi Museum Lambung Mangkurat).
Suku bangsa Banjar[4] (bahasa Banjar: Urang Banjar) adalah suku bangsa yang menempati sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, dan sejak abad ke-17 mulai menempati sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Timur terutama kawasan dataran dan bagian hilir dari Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah tersebut. Suku Banjar terkadang juga disebut Melayu Banjar, tetapi penamaan tersebut jarang digunakan.[5]

Suku bangsa Banjar berasal dari daerah Banjar yaitu wilayah inti dari Kesultanan Banjar meliputi DAS Barito bagian hilir, DAS Bahan (Negara), DAS Martapura dan DAS Tabanio.[rujukan?] Sungai Barito bagian hilir merupakan pusatnya suku Banjar.

Kebudayaan Suku Banjar :

Keterampilan Mengolah Lahan Pasang Surut
Salah satu keahlian orang Banjar adalah mengolah lahan pasang surut menjadi kawasan budi daya pertanian dan permukiman.[25]Kota Banjarmasin didirikan di atas lahan pasang surut.

Rumah Adat Suku Banjar :

Rumah Adat adalah :  Rumah tradisional suku Banjar. Arsitektur tradisional ciri-cirinya antara lain mempunyai perlambang, mempunyai penekanan pada atap, ornamental, dekoratif dan simetris. Rumah tradisonal Banjar adalah tipe-tipe rumah khas Banjar dengan gaya dan ukirannya sendiri mulai berkembang sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Dari sekian banyak jenis-jenis rumah Banjar, tipe Bubungan Tinggi merupakan jenis rumah Banjar yang paling dikenal dan menjadi identitas rumah adat suku Banjar.
Tipe  : Rumah Bubungan Tinggi

Rumah Bubungan Tinggi  : adalah salah satu rumah tradisional suku Banjar (rumah Banjar) di Kalimantan Selatan dan bisa dibilang merupakan ikonnya Rumah Banjar karena jenis rumah inilah yang paling terkenal karena menjadi maskot rumah adat khas provinsi Kalimantan Selatan.

Ciri-Ciri

Menurut Tim Depdikbud Kalsel, ciri-cirinya :
1.       Atap Sindang Langit tanpa plafon
2.       Tangga Naik selalu ganjil
3.       Pamedangan diberi Lapangan kelilingnya dengan Kandang Rasi berukir

Rumah Bubungan Tinggi di Desa Telok Selong.

Ruang Anjung bagian belakang dengan atap jurai disebut Anjung Jurai terdapat di Desa Telok Selong.

Musik .

Musik, teater tradisional dan wayang


Salah satu kesenian berupa musik tradisional khas Suku Banjar adalah Musik Panting. Musik ini disebut Panting karena didominasi oleh alat musik yang dinamakan panting, sejenis gambus yang memakai senar (panting) maka disebut musik panting. Pada awalnya musik panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan. Panting merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gabus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada waktu dulu musik panting hanya dimainkan secara perorangan atau secara solo. Karena semakin majunya perkembangan zaman dan musik panting akan lebih menarik jika dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya, maka musik panting sekarang ini dimainkan dengan alat-alat musik seperti babun, gong,dan biola dan pemainnya juga terdiri dari beberapa orang. Nama musik panting berasal dari nama alat musik itu sendiri, karena pada musik panting yang terkenal alat musik nya dan yang sangat berperan adalah panting, sehingga musik tersebut dinamai musik panting. Orang yang pertama kali memberi nama sebagai musik panting adalah A. SARBAINI. Dan sampai sekarang ini musik panting terkenal sebagai musik tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan.
Selain itu, ada sebuah kesenian musik tradisional Suku Banjar, yakni Musik Kentung. Musik ini berasal dari daerah Kabupaten Banjar yaitu di desa Sungai Alat, Astambul dan kampung Bincau, Martapura. Pada masa sekarang, musik kentung ini sudah mulai langka. Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan. Dalam pertandingan ini bukan saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding.

 

Tarian & Lagu

Tarian suku Banjar:
Seni Tari Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari yang dikembangkan di lingkungan istana (kraton), dan seni tari yang dikembangkan oleh rakyat. Seni tari kraton ditandai dengan nama "Baksa" yang berasal dari bahasa Jawa (beksan) yang menandakan kehalusan gerak dalam tata tarinya. Tari-tari ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu, semenjak zaman hindu, namun gerakan dan busananya telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Contohnya, gerakan-gerakan tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan adab islam mengalami sedikit perubahan.

 Lagu Daerah suku Banjar:

Pakaian Adat :
Pakaian Pengantin Suku Banjar ada 4 jenis:
Baju  pengantin laki-laki namanya “Teluk Belangga”,  Baju pengantin  perempuan namanya “ Kembang

·         Pengantin Bagajah Gamuling Baular Lulut


·         Pengantin Baamar Galung Pancar Matahari

·         Pengantin Babaju Kun Galung Pacinan
·         Pangantin Babaju Kubaya Panjang


Pakaian Remaja Suku Banjar :
Baju Kurung Basisit dan Teluk Belanga Banjar

























Tugas PKn : Suku-suku yang ada di Indonesia
Nama : Aisyah Adhilla Kaela
No. Absen :  03
Kelas/Sekolah : 3C – SD Pembangunan Jaya

Suku Dayak - Kalimantan Timur

Suku Dayak


Dayak atau Daya adalah suku-suku asli yang mendiami Pulau Kalimantan, lebih tepat lagi adalah yang memiliki budaya sungai dimasa sekarang yaitu setelah berkembangnya agama Islam di Borneo, sebelumnya

Budaya masyarakat Dayak adalah Budaya Maritim atau bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan "perhuluan" atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama keluarga.

Tradisi Suku Dayak dan adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun, tetap terpelihara hingga kini. Suku Dayak yang terkenal dengan berbagai macam ilmu supranaturalnya ini memegang teguh adat istiadat mereka sehingga dunia mistik yang mereka miliki ini memiliki kekuatan yang tetap sama kuatnya seperti zaman dahulu.
Berikut ini akan dijabarkan adat istiadat suku Dayak yang terkenal dan masih dilaksanakan hingga sekarang :

         Uparacara Tiwah; ritual adat untuk mengantarkan tulang belulang orang yang sudah meninggal ke sebuah rumah kecil yang secara istimewa mereka buat sebagai tempat peristirahatan terakhir orang tersebut.
         Mistik; Suku Dayak terkenal dengan keahlian dalam dunia mistiknya yang sangat kuat dan hebat sehingga tidak salah jika masyarakat kita saat ini pun masih sangat segan jika berhadapan dengan suku Dayak.
         Tradisi Mangkuk Merah; jika keadaan suku mereka dalam kondisi yang membahayakan, maka sebuah mangkuk merah yang merupakan lambang persatuan akan segera beredar dari satu kampung ke kampung yang lain dengan sangat cepat. 

Kode-kode Suku Dayak

         Mengirim tombak yang telah diikat rotan merah (telah dijernang) berarti menyatakan perang, dalam bahasa Dayak Ngaju "Asang".
         Mengirim sirih dan pinang berarti si pengirim hendak melamar salah seorang gadis yang ada dalam rumah yang dikirimi sirih dan pinang.
         Mengirim seligi (salugi) berarti mohon bantuan, kampung dalam bahaya.
         Mengirim tombak bunu (tombak yang mata tombaknya diberi kapur) berarti mohon bantuan sebesar mungkin karena bila tidak, seluruh suku akan mendapat bahaya.
         Mengirim Abu, berarti ada rumah terbakar.
         Mengirim air dalam seruas bambu berarti ada keluarga yang telah mati tenggelam, harap lekas datang. Bila ada sanak keluarga yang meninggal karena tenggelam, pada saat mengabarkan berita duka kepada sanak keluarga, nama korban tidak disebutkan.
         Mengirim cawat yang dibakar ujungnya berarti salah seorang anggota keluarga yang telah tua meninggal dunia.
         Mengirim telor ayam, artinya ada orang datang dari jauh untuk menjual belanga, tempayan tajau.
         Daun sawang/jenjuang yang digaris (Cacak burung) dan digantung di depan rumah, hal ini menunjukan bahwa dilarang naik/memasuki rumah tersebut karena adanya pantangan adat.
         Bila ditemukan pohon buah-buahan seperti misalnya langsat, rambutan, dsb, didekat batangnya ditemukan seligi dan digaris dengan kapur, berarti dilarang mengambil atau memetik buah yang ada dipohon itu.

Tugas PKn             :  Suku-suku yang ada di Indonesia
Nama                     :  Fathur Rahman
No. Absen              :  14
Kelas/Sekolah       :  3C – SD Pembangunan Jaya

Suku Toraja - Sulawesi Selatan

SUKU TORAJA

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 650.000 jiwa, dengan 450.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja. Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.

Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti "orang yang berdiam di negeri atas". Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.

Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900-an, misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun 1970-an, kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia. Tana Toraja dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog.[4] Masyarakat Toraja sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya, dari masyarakat berkepercayaan tradisional dan agraris, menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat.

Tongkonan

Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata "tongkonan" berasal dari bahasa Toraja tongkon ("duduk").
Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta karena Tongkonan melambangan hubungan mereka dengan leluhur mereka. Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan menggelar upacara yang besar.

Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan. Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat "pemerintahan". Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal sedangkan anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan batu. Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu membangun tongkonan yang besar.

Tugas PKn : Suku-suku yang ada di Indonesia

Nama               : Wishnu Avianto Nugroho
No Absen        : 29
Kelas-Sekolah : 3c - SD Pembangunan Jaya


Senin, 14 Februari 2011

Suku Jawa - DI Yogyakarta

SUKU JAWA

Suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. [1] Selain di ketiga propinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Suku Jawa juga memiliki sub-suku, seperti Osing dan Tengger.
Suku bangsa Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Dalam sebuah survei yang diadakan majalah Tempo pada awal dasawarsa 1990-an, kurang lebih hanya 12% orang Jawa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka sehari-hari, sekitar 18% menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia secara campur, dan selebihnya hanya menggunakan bahasa Jawa saja.
Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan antara pembicara dan lawan bicara, yang dikenal dengan unggah-ungguh. Aspek kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa, dan membuat orang Jawa biasanya sangat sadar akan status sosialnya di masyarakat.
Orang Jawa sebagian besar secara nominal menganut agama Islam. Tetapi ada juga yang menganut agama Protestan dan Katolik. Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. Penganut agama Buddha dan Hindu juga ditemukan pula di antara masyarakat Jawa. Ada pula agama kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai agama Kejawen. Kepercayaan ini terutama berdasarkan kepercayaan animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur.

RUMAH JOGLO

Joglo adalah rumah adat masyarakat Jawa. Terdiri dari 2 bagian utama yakni Pendapa dan dalem. Bagaian pendapa adalah bagian depan Joglo yang mempunyai ruangan luas tanpa sekat-sekat, biasanya digunakan untuk menerima tamu atau ruang bermain anak dan tempat bersantai keluarga. Bagian dalem adalah bagian dalam rumah yang berupa ruangan kamar, ruang kamar dan ruangan lainnya yang bersifat lebih privasi. Ciri-ciri bangunan adalah pada bagian atap Pendapanya yang menjulang tinggi seperti gunung.

SURJAN dan KEBAYA

Surjan adalah sejenis kemeja pria resmi dalam tradisi Jawa Mataraman untuk dikenakan pada acara-acara resmi atau penting. Busana atasan ini diperkenalkan pada akhir abad ke-18[rujukan?] oleh kalangan kerajaan-kerajaan di wilayah Vorstenlanden namun kemudian menyebar ke berbagai wilayah pengaruh budayanya.
Surjan berbentuk kemeja tebal, tidak berkerah lipat, biasanya berwarna gelap, namun hampir selalu polos. Bagian depan berbentuk tidak simetris, dengan pola kancing menyamping (tidak tegak lurus). Tergantung jenisnya, terdapat perbedaan potongan pada bagian belakang, untuk mengantisipasi keberadaan keris. Surjan selalu dikombinasi dengan jarik (kain panjang yang dibebatkan untuk menutup kaki.
Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Jawa yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung, batik, atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni.


Tugas PKn : Suku-suku yang ada di Indonesia

Nama             : Nadira Aisha Rania

No. Absen      : 24

Kelas               :  3-c